sarinah oh sarinah

Gak banyak yang gua tau dari gedung yang dua hari kemarin gua datengin untuk interview kerja, berangkat dari rasa penasaran. Kenapa sih gedung ini dinamain sarinah? gua lantas googling, di Bandung sendiri tempat gw lahir ada gedung dengan nama yang sama yaitu sarinah yang sekarang udah punah di makan jaman. Lokasinya deket sama gedung-gedung bersejarah di daerah braga Bandung, tebakan gw sarinah itu punya sebuah cerita sejarah yang menarik, ternyata ada seorang bernama Rudhi Mathari yang membuat buku khusus tentang gedung ini, apa bukunya masih dijual di toko buku ya? kalau iya gua pasti langsung beli. ini ada sedikit riview buku itu dari pengarangnya langsung. semoga bisa ngasih gambaran buat kita semua. Enjoy ūüôā

Judul: The Power of Vision: Sebuah Pergulatan Transformasi ‚ÄúSang Dewi‚ÄĚ Sarinah

Penerbit: Gibon Books, Jakarta

Tahun:April 2008

Jumlah Halaman: xxii + 420

Penulis:Tim penulis

Oleh Rusdi Mathari

ENTAH dari mana asal muasalnya, istilah ‚ÄúSarinah pergi ke pasar‚ÄĚ sering digunakan oleh seseorang yang mengolok-olok teman atau kenalannya yang sedang menenteng tas (keranjang). Maksudnya bercanda, tentu saja. Namun ketika sebagian besar dari kita tak menyadari betul apa dan siapa Sarinah, kata-kata yang sudah cukup lama kerap digunakan oleh juragan topeng monyet saat memukul gendang atau genderang untuk mengiringi monyetnya menari sambil membawa replika payung dan keranjang, mestinya terasa untuk melecehkan. Sarinah lalu hampir setiap kali, diidentikkan dengan monyet, tari monyet tepatnya.

Sebuah olok-olok yang celakanya kemudian juga muncul dalam syair sebuah lagu anak-anak, ‚Ķ‚ÄĚDakocan namanya, bukan Sarinah‚Ķ‚ÄĚ Maksudnya tentu adalah Sarinah dan juga nama itu, adalah sosok dan nama kere, kelas pembantu, murah dan sebagainya. Tak salah pula bila ada orang yang menerjemahkan kata-kata itu, sebagai olok-olok kepada Sukarno, pemilik gagasan pembangunan (gedung) Sarinah.

Benar, Sarinah adalah nama yang diberikan oleh Presiden RI Sukarno kepada sebuah gedung yang kelak di dalamnya terdapat sebuah pusat belanja modern pertama di Indonesia. Dalam bukuSarinah, Sukarno mengaku nama itu adalah nama pengasuhnya, pengasuh keluarganya.¬†Mbok¬†Sarinah, begitu Sukarno biasa memanggil perempuan yang diakui telah ikut mendidiknya, dan membantu ibu bapaknya. Sarinah, kata Sukarno, ‚Äú‚Ķmendidik mengerti bahwa segala sesuatu di negeri tergantung daripada rakyat jelata.‚ÄĚ

Dibangun sejak 23 April 1963, Gedung Sarinah dimaksudkan oleh Sukarno menjadi sebuah pusat perbelanjaan modern yang bisa memenuhi keinginan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus. Gagasannya berasal dari Sukarno, menyusul lawatannya ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern. Ketika inflasi membubung pada masa itu, pembangunan Sarinah bukan nihil kritikan. Sukarno antara lain dianggap hanya meneruskan proyek mercusuar dan Sarinah adalah salah satu proyek gagah-gagahan ciptaan Sukarno. Hampir bersamaan waktu, ketika itu Sukarno memang sedang membangun Gelanggang Olahraga Bung Karno seluas 300 hektar pada 8 Februari 1960 untuk menyongsong pelaksanaan Asian Games IV.

Sukarno yang dikenal sebagai pemimpin keras namun juga memiliki sikap, akan tetapi bergeming dengan semua kritikan hingga Sarinah kemudian benar-benar diresmikan pada 15 Agustus 1966 lebih cepat dua hari dari rencana. Sukarno ingin melawan kapitalisme, dan karena itu Sarinah harus dibangun yang dalam bahasa Sukarno justru untuk dijadikan tempat sebagai penyaluran barang-barang keperluan hidup rakyat jelata. ‚ÄúJanganlah ada satu manusia yang mengira, bahwa¬†departement store¬†(Sarinah-Pen) adalah proyek lux. Tidak!,‚ÄĚ begitulah Sukarno menjawab para pengkritik pembangunan Gedung Sarinah.

Peresmian pada 15 Agustus itu sebetulnya terlambat hampir setahun dari keinginan Sukarno yang bermaksud meresmikan Sarinah pada Hari Ibu 1965, 22 Desember. Ketika diresmikan, Sukarno sedang berada di bawah tekanan politik yang cukup berat menyusul peristiwa politik berdarah yang mengakibatkan banyak nyawa melayang pada akhir 1965. Dia berada di ujung akhir kekuasaan. Sebelum akhirnya menjalani tahanan politik Orde Baru hingga kematiannya pada 1970, Sukarno hanya bisa menikmati Sarinah sekitar 2 tahun sejak diresmikan, bahkan mungkin kurang. ‚ÄúSarinah pergi ke pasar,‚ÄĚ dan ‚Äú‚ĶDakocan namanya bukan Sarinah‚Ķ‚ÄĚ lalu menjadi kosakata baru yang seolah muncul dari dunia antah-berantah.

Pada awal beroperasi, Sarinah (kini menjadi PT Sarinah-Persero) merupakan pusat belanja modern di Indonesia. Pembangunan gedungnya paling sedikit menelan ongkos Rp 50 miliar yang sebagian besar didapat oleh pemerintahan Sukarno dari pinjaman negara Jepang. Operasionalnya pada waktu itu mendapat pengawasan dari Matsuzakaya dan Seibu. Nama yang disebut terakhir adalah pusat belanja modern terbesar di Jepang yang dibangun pada 1949. Dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC), mesin elektronik penghitung IBM seri 1400, tangga berjalan, dan pusat kesehatan untuk para pengunjung, fasilitas Sarinah adalah yang tercanggih, termewah dan termahal pada masa itu.

Hanya seminggu setelah beroperasi pengunjung Sarinah mencapai ribuan orang dan omzet per hari selama seminggu itu, mencapai Rp 600 juta. Hampir 35 tahun kemudian, kondisi yang mirip berulang ketika pusat belanja hipermarket Carrefour di Lebak Bulus, Jakarta Selatan beroperasi pada awal 2001; ribuan orang terlihat saling berdesakan di lorong-lorong dan mengantre di depan kasir. Bedanya, Carrefour yang berasal dari Prancis itu terus bertahan dengan kunjungan ribuan orang hingga kini, sementara Sarinah tidak. Tak menentunya situasi politik dan juga ekonomi bangsa, menyebabkan pamor Sarinah redup hanya dalam waktu kurang dari setahun, atau bahkan hanya beberapa bulan setelah diresmikan: omzetnya turun drastis menjadi hanya Rp 1,5 juta.

Puncaknya adalah 700 karyawan dari total 2.800 karyawan, harus di-PHK pada awal Februari 1967. Keputusan yang tidak populer itu mendapat reaksi keras dari karyawan dan memengaruhi perilaku dan disiplin kerja karyawan yang masih bekerja: pramuniaga tidak berpakaian rapi, ogah-ogahan dalam melayani pembeli dan sebagainya. Hingga akhir 1970, keuangan Sarinah tak kunjung membaik dan sebaliknya justru mulai terbebani oleh utang. Omsetnya menjadi hanya sekitar Rp 35 miliar sebulan.

Berbilang tahun lamanya kondisi keuangan Sarinah terus tergerus oleh salah urus, tidak efisien dan juga korupsi. Puncak paling memilukan terjadi pada 18 Juli 1980, ketika gedung empat lantai Sarinah habis terbakar. Kebakaran super hebat sehingga tak sedikit pun gedung dan seluruh isinya bisa diselamatkan. Semua musnah termasuk lantai dasar tempat banyak restoran menawarkan makanan-makanan daerah. Jembatan yang menghubungkan Gedung Sarinah dengan Gedung Jakarta Teater yang berada di sisi utara juga ambruk. Branwir, mobil dan petugas pemadam kebakaran itu datang terlalu terlambat karena terlebih dulu harus bertarung dengan kemacetan.

Sebelum mereka tiba di lokasi untuk menjinakkan api yang telanjur membesar, semua orang sudah lebih dulu teringat apa pentingnya kecepatan. Kekuasaan birokrasi Orde Baru yang mungkin ambeienpada waktu itu karena terlalu sering duduk, kali ini harus mengaku kalah tak berdaya. Ada suara setelah itu; Sarinah memang sengaja dibakar menyusul diresmikannya pusat belanja baru, Ratu Plaza yang terletak di kawasan Senayan, dan Duta Merlin di dekat Harmoni. Kebakaran yang sama berulang pada 13 November 1984 dan mengakibatkan Sarinah menelan kerugian Rp 2,7 miliar. Di Jakarta pada masa itu, sudah mulai bermunculan pusat perbelanjaan termasuk Pasaraya Sarinah Jaya milik pengusaha Abdul Latief yang dibangun pada 1981 di kawasan Blok M.

Nama Sarinah baru kembali diingat orang, ketika pada Februari 1991, restosan cepat saji McDonald yang berasal dari Amerika Serikat menyewa lantai dasar Gedung Sarinah di bagian depan. Gedung Sarinah kembali ramai dikunjungi orang tapi pengunjung itu bukan bermaksud berkunjung atau berbelanja ke pusat perbelanjaan Sarinah, melainkan ke restoran yang hak lisensinya di Indonesia dikantongi oleh Bambang Rachmadi menantu mantan Sudharmono yang pada waktu itu menjabat Wakil Presiden RI.

Keramaian semacam itu semakin riuh ketika setahun kemudian Hard Rock Caf√©, salah satu ikon caf√© dunia yang juga berasal dari Amerika Serikat, juga menempati Gedung Sarinah, di lantai 2. Setiap hari, setiap malam, hingga krisis ekonomi pada pertengahan 1997, Sarinah seolah berpesta. Di bagian dalam, di pusat perbelanjaannya, aneka pakaian dan barang yang mendunia mulai memenuhi gerai-gerai, seperti ketika dulu gerai Levi‚Äôs menempati salah satu sudut Gedung Sarinah. Entah apa yang akan dikatakan Sukarno, andai kini melihat Sarinah dengan McDonald, Hard Rock dan barang-barang mewah itu‚ÄĒ Hard Rock Caf√© sekarang sudah tidak menempati Gedung Sarinah‚ÄĒ yang justru berasal dari pusat kapitalisme dunia yang pernah hendak dilawannya, Amerika Serikat.

Dakocan Square

Buku setebal 413 halaman ini, meskipun berisi memoar perjalanan Sarinah, satu-satunya BUMN yang bergerak di bidang ritel akan tetapi lebih tepat disebut memoar dari Ketut Arnaya, Direktur Utama Sarinah yang keduabelas, yang dikenal banyak orang sebagi pribadi santun. Sekitar tujuh tahun menjabat sebagai bos Sarinah, Ketut di buku ini, terlihat ingin ‚Äúdilihat.‚ÄĚ Sebuah upaya yang wajar sebetulnya, terutama ketika Sarinah di bawah Ketut hendak dikembangkan menjadi pusat belanja dengan konsep¬†square, seperti yang mulai menjamur dalam lima tahun terakhir, di Tanah Air. Sebuah cita-cita yang sebetulnya terlalu terlambat, meskipun usaha itu bisa pula diterjemahkan sebagai usaha untuk menghapus olok-olok ‚ÄúSarinah pergi ke pasar‚ÄĚ dan ‚Äú‚ĶDakocan namanya, bukan Sarinah‚Ķ‚ÄĚ

Sarinah, akan tetapi memiliki beban sejarah, yang bukan hanya berat melainkan juga seharusnya tak bisa begitu saja diabaikan: menjadi pusat penyaluran barang-barang kebutuhan hidup rakyat jelata. Tujuan dan gagasan awal itu, dalam perjalanan Sarinah harus diakui tak pernah terwujud. Bukan saja karena Sarinah tak sanggup menyediakan barang-barang murah menyusul masuknya dagangan bermerek dunia namun Sarinah juga telah menjadi tempat bertemunya orang-orang kaya Jakarta. Di depannya, di jembatan penyeberangan Jalan M.H. Thamrin, rakyat jelata seperti dimaksud oleh Sukarno, menggelar dagangan mereka sambil tertimpa hujan dan debu kemarau, atau harus berkejaran dengan petugas trantib.

Andai pilihan itu (untuk disulap menjadi¬†square) tetap harus dilakukan, Sarinah akan lebih baik, jika sama sekali kemudian menghapus sejarah dan tujuan pendiriannya‚ÄĒ antara lain misalnya dijual kepada pihak swasta. Dengan demikian, Sarinah tak akan digugat oleh beban masa lalu yang heroik dan mulia, juga catatan tentang perilaku korup yang pernah dilakukan oleh sejumlah orang Sarinah, dulu. Paling tidak, kelak ketika Sarinah diurus oleh swasta, olok-olok, ‚ÄúSarinah pergi ke pasar‚ÄĚ dan ‚Äú‚ĶDakocan namanya bukan Sarinah‚Ķ‚ÄĚ siapa tahun tak lagi sering terdengar.

Selain soal logika bahasa dan logika penulisan yang di sana-sini masih banyak berantakan, juga jumlah penulis dan editor yang berjumlah 9 orang‚ÄĒ buku ini jika harus disayangkan tak pula memberikan alternatif pilihan untuk mendongkrak citra dan imaji Sarinah semacam itu. Termasuk misalnya, usulan nama, apakah harus tetap memakai Sarinah sehingga menjadi Sarinah Square atau mungkin memilih nama yang dianggap lebih berkelas, Dakocan Square misalnya.

Keterangan Gambar: Gedung Sarinah di Jalan Thamrim Jakarta-www.sarinah.co.id

Posted in ngobrolin yang serius | Leave a comment

Dewata berbeda

Dustak dustak dustak dustak

Bunyi dentum trebel dan bass berteriak kencang dijalanan sepanjang legian malam ini. Iya, legian di malam hari memang jauh lebih cantik karena dipenuhi keramaian dan lampu yang kerlap-kerlip dimana-mana. Kesalah kami malam ini adalah sebelum sampai akhirnya memutuskan untuk liat berbagai hiburan malam disini. Kita memenuhi perut kita dengan berbagai jenis makanan dan minuman, jadi niat untuk dugem malam ini gagal. Ah untungnya di legian kamu tidak perlu masuk kalau hanya untuk sekedar menikmati musiknya, kecuali kamj adalah anak gaul sejati yang senang dugem minum sambil joget-jeget di tengah kumpulan para manusia dari seluruh penjuru dunia itu. Sayangnya saya bukan tipe itu, di bandung biasanya main ke club kalau tidak di ajak teman-teman, paling diajak masuk gratisan dengn (guest list), belum pernah ada sejarahnya saya sengaja datang ke sebuah club karena “wah dj nya keren banget” atau ” eh lagi ada promo minuman loh di club itu”alhasil malam ini kami lebih memilih duduk duduk di pinggir jalan sambil menikmati musik gratisan.

Lama-lama bosan juga ternyata, hanya duduk-duduk dan sesekali menyalakan rokok, mau masuk, nanti di dalam mau apa? Makan, perut kenyang maksimal, mau minum ah rasanya tidak mungkin dengan budget lowcost yang saya punya. Akhirnya setelah satu jam duduk-duduk kami memutuskan untuk pulang ke penginapan, naik taksi. Ah ini spesialnya bali di bandung sekali naik taksi kita minimal biasanya harus mengeluarkasn kocek 15rb, disini akibat dari jalan-jalan di bali yang kecil dn pendek kocek 5 ribu bisa mengantar saya ketempat tinggal sementara di bali. Ah, bali kamu bersahabat sekali dengan kantong backpacker macam saya.

Disepanjang perjalanan kami merencanakan akan kemana kita besok? Maklum kita kesini tanpa travel agent jadi jadwal sampe biaya perjalanan benar-benar kita atur sendiri. Dari perdebatan yang ada malam ini akhirnyw kami memutuskan untuk jalan-jalan ke ubud. Iya ubud yang kemarin sempat dijadikan tempat syuting eat pray love. Ah pasti ada pesona tersendiri dar wilayah bagian tengah bali ini sampai bisa dipilih lokasi syuting film holywood. Saya sanagat penasaran.

Ubud itu cukup jauh jaraknya dari kuta alternatif transport yang mungkin kita ambil, sewa mobil, motor atau naik bus. Ada bus setiap 3 jam sekali ke sana tapi kocek yang dikeluarkan kalau kita pakai bus jauh lebih mahal dr dua pilihan lainnya. Setelah perdebatan yang sengit akhirnya kami memutuskan untuk ambil opsi pertama. Kita sewa mobil ke ubud besok.

Posted in ngobrolin yang serius | Leave a comment

Surya (Enggan) Tenggelam

Kemana sinar saat kehabisan waktu? Dia sembunyi di lelapnya malam

Diantara selimut lelah, ia tetap terang saat semua terlihat serupa gelap.

Aku terkadang lupa semangat manusia itu serupa sinar, yang kadang berderang

dan tetiba menjadi (seperti) padam, padahal sinar itu tak pernah benar-benar menjadi padam

ia hanya senang bersembunyi sejenak

di balik ketenangan gelap.

Sinar pun bisa lelah di tengah gagah rupa warnanya

Dia persesis seperti malam yang berutinitas

setiap hari sembunyi kan terang di hangatnya nafas-nafas lelah manusia

diantara ruang yang disebut malam

Semangat itu terang , kadang tenggelam dan tetiba terbit kembali

Terang selalu seperti itu selamanya

Serupa hukum Tuhan yang tak pernah lekang di kekang zaman.

Rinduku pada terang serupa rasa tenang dalam pelukan Tuhan.

Rindumu pada terang serupa apa, Teman?

Posted in bobodoran | Leave a comment

!

*playing- Apology (Adhitia Sofyan)*

sesering apa dulu kita pernah duduk sejajar di kursi mobil yang sama? ditemani suara sayup lagu-lagu kekinian yang diputar di radio. hari itu banyak oceh sana sini yang kita keluarkan, saat dimana apapun yang kita ocehkan membuat kita tertawa bahagia. pernah waktu itu kita saling menanyakan, berapa lama Tuhan memberikan waktu pada kita untuk memiliki satu nada tawa yang sama? sebuah kekhawatiran yang saat itu sering kita utarakan, kenapa? mungkin karena saat itu kita merasa terlalu bahagia?

belakangan aku menyadari itu dahulu.

lalu sekarang apa rasanya kamu duduk disana tanpa ada aku disebelahmu? apa rasanya disana sunyi tanpa bebunyian nada tawa yang sama-sama kita keluarkan waktu itu? ah mungkin waktu yang diberikan Tuhan telah habis ya?

sampai saatnya yang kamu ketahui tentang aku, seorang teman yang gemar sekali menemanimu tertawa dan duduk disatu jajaran sama di ruang mobil itu, hanya dari kata kata orang yang kamu temui selama berkendara. sampai saatnya tanpa sebuah kepastian sebuah nada tawa yang kita pernah bunyikan bersama menjelma menjadi sebuah erangan kesakitan di hati kamu? iya, mungkin sampai saat kamu membaca tulisan ini. luka itu masih membekas.

kamu adalah sebuah senyum bahagia yang pernah Tuhan titipkan dalam potongan-potongan cerita hidup ini, jangan hilangkan itu karena mungkin orang-orang terdekatmu saat ini sedang merasakan apa yang aku rasakan. aku sedang tidak meminta kamu menanyakan, bagaimana kabar aku saat ini tanpa kamu? bagaimana cerita hidup aku selama tidak berada di sebuah ruang yang sama dengan kamu. aku hanya ingin menitipkan senyum indah kita dulu menjadi sebuah rahasia yang dulu kita pernah nikmati bersama. semoga Tuhan senantiasa memeluk erat doa-doa yang sering kamu lafazkan belakangan ini. sampai saat tulisan ini berakhir kamu akan tetap menjadi sebuah inspirasi dalam sebuah semesta bernama kenangan. ūüėÄ

Posted in ngobrolin yang serius | Leave a comment

Hasil nyimak cerita “FESTIVAL”

Beberapa tahun lalu, membaca aneka festival di kota-kota dunia, tiba-tiba saya ngeh, betapa kurangnya festival di Indonesia. Macam-macam pikiran saya waktu itu: apa Indonesia yg kota-kota nya begitu minim festival adalah bangsa yg murung? Terlalu “serius”, mungkin? Bayangkan, alangkah beragamnya dunia ini, alangkah menggemaskan: festival bunga, tari, night of the undead, buku, jamur, air, dan, ya, film. Begitu saya menapak kaki ke Jepang, pas musim panas. Ya ampun, kayaknya tiap gang ada festivalnya deh, selama 3 bulan plus. Kalau mau pandang dari segi ekonomi (apalagi di zaman Freakonomics ini :P) jelas belaka, festival itu kegiatan ekonomi padat karya.Tapi, yg segera saya rasakan, merasai dunia penuh festival ini: festival adalah simpul konektivitas -antarmanusia, antarbangsa, antarbudaya.Dalam festival -bahkan yg se-“ajaib” festival siram air ke jalan supaya jalan nggak panas- manusia tumpah ruah dalam gembira dan keanekaan.Bagi banyak bangsa, dan kota, festival bukan hanya ajang tontonan, tapi salah satu alat sosialisasi nilai. Yg terpenting: nilai kebersamaan. Lalu, saya kembali ke pertanyaan semula: kenapa di kota-kota Indonesia begitu minim festival? Yg tradisional pun seperti makin berkurang? Lalu saya ingat: banyak sekali acara keramaian harus berbenturan dengan birokrasi, dan bahkan dgn kekerasan militer. Kenapa?Ya, ya… ini warisan Orde Baru. Ada kebijakan khusus Orba utk membatasi mengakomodasi keramaian, termasuk festival. Uts.. ini bukan “lagi-lagi nyalahi Orba” lho… tapi, salah satu petunjuk, baca buku Abidin Kusno: “Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif” Kenapa Orba membatasi keramaian? (pedestrian diabaikan, festival dibatasi) Karena keramaian punya potensi politik, rupanya. Menurut Abidin Kusno, dalam keramaian festival dan jalanan, orang saling berjumpa, saling bercakap, gagasan2 saling-jalin.Coba deh, kita tengok festival yg sebetulnya agak kecil & masih belum sempurna, kayak Jiffest: orang dan gagasan saling jumpa, berhubungan. Di Jiffest, dunia anekawarna tersaji di ruang2 Jakarta yg biasanya hanya sibuk cari duit. Anak kampung Kebon Kacang nonton kehidupan Filipina. Dalam perjumpaan aneka manusia, dan anekadunia itu, siapa bisa menjamin, tak akan lahir gagasan2 baru, kreasi2 segar, nantinya? Lihat Salman Aristo, penulis skenario beberapa film laris kita, menyebut Jiffest yg melahirkannya. Saya tahu, banyak yg begitu! Jadi, penting untuk berupaya menyelamatkan Jiffest. Ini satu dari sedikit kesempatan anak2 kampung kayak saya, mengalami dunia anekawarna!

(kutipan ini seijin yang empunya cerita Hikmat Darmawan sorang yang fokus di bidang penulisan, spesialisasi budaya pop, film dan komik)

“Do Something, STOP Yelling!” GnR

 

Posted in ngobrolin yang serius | Leave a comment

Efek Domino.

Sesaat hujan reda ada katumiri yang indah melengkung di antara mega di angkasa. kita hanya butuh percaya itu, ya buktinya itu yang lagi-lagi gw alami. Mendapatkan kenyataan “gagal” untuk memperoleh salah satu target di tahun 2010 ini segera di tutupi oleh sebuah “harapan”. Gilang Nur Rahman S.Psi memang indah rasanya di dapat di tahun (tepat) 2010 ini tapi kenyataan usaha yang sepertinya sudah cukup maksimal di lakoni, toh tetep aja ada yang menghalangi. Ya memang skripsi jadi “biang keladi” nya, tapi tepat baru saja “kegagalan” ini datang, satu kesempatan yang entah lahir dari mana datang. Semua seperti kebetulan, ya tapi kehidupan gw memang penuh dengan “jebakan-jebakan” kebetulan yang kalau di tarik garis merahnya itu seperti skenario sempurna dari Sang penggegam sukma manusia. Semoga ini efek domino, “hadiah” sebelum kelulusan dan mendapat gelar “S.Psi”. Kun Fa ya Kun. Manusia ini hanya bisa berserah diri.

Posted in ngobrolin yang serius | Leave a comment

Cungkupku hanya tanah, tembikar yang dibakar

Selendang bersulam sutra

Biduri lembayung jingga

Saksi mati tuk bersaksi

Gelimang pesona diri

Belia usia dulu

Ruap cinta telah menggebu

Samar kuliat dunia tak

Sadar semua fana

Semerbak dupai iringi ku melangkah

Cungkupku hanya tanah bilur hati merambah

Dan akan datangkah bagiku kesempatan

Bila tak ada titian diri yang rupawan

(duh tenteuingin tutur lengkah kabengbat peurih)

Sekilas lihatlah mega

Anugerah tiada tara

Ini tak adil untuk ku

Halimun hitam merasuk

Ceracau getir ibunda

Gemetar sengap hatinya

Firasa tak pernah salah

Hanya ku berbuat ulah

Original performed by :

Sarasvati

Pilu saat menyadari bangsa ini menangis di hari kebangkitannya

Bangsa ini telah kehilangan wibawanya

Pemimpinnya tamak, rakyatnya tamak

Pemimpinya egois, rakyatnya bertindak durjana

Mungkin frustasi, atau karena ilmu yang dangkal

Tuhan, hanya bisa kubasuh sukma ini

dengan istigfar sebanyak yang aku bisa.

Lindungi mereka manusia yang di perkosa hak hidupnya.

Posted in bobodoran | Leave a comment