Dustak dustak dustak dustak
Bunyi dentum trebel dan bass berteriak kencang dijalanan sepanjang legian malam ini. Iya, legian di malam hari memang jauh lebih cantik karena dipenuhi keramaian dan lampu yang kerlap-kerlip dimana-mana. Kesalah kami malam ini adalah sebelum sampai akhirnya memutuskan untuk liat berbagai hiburan malam disini. Kita memenuhi perut kita dengan berbagai jenis makanan dan minuman, jadi niat untuk dugem malam ini gagal. Ah untungnya di legian kamu tidak perlu masuk kalau hanya untuk sekedar menikmati musiknya, kecuali kamj adalah anak gaul sejati yang senang dugem minum sambil joget-jeget di tengah kumpulan para manusia dari seluruh penjuru dunia itu. Sayangnya saya bukan tipe itu, di bandung biasanya main ke club kalau tidak di ajak teman-teman, paling diajak masuk gratisan dengn (guest list), belum pernah ada sejarahnya saya sengaja datang ke sebuah club karena “wah dj nya keren banget” atau ” eh lagi ada promo minuman loh di club itu”alhasil malam ini kami lebih memilih duduk duduk di pinggir jalan sambil menikmati musik gratisan.
Lama-lama bosan juga ternyata, hanya duduk-duduk dan sesekali menyalakan rokok, mau masuk, nanti di dalam mau apa? Makan, perut kenyang maksimal, mau minum ah rasanya tidak mungkin dengan budget lowcost yang saya punya. Akhirnya setelah satu jam duduk-duduk kami memutuskan untuk pulang ke penginapan, naik taksi. Ah ini spesialnya bali di bandung sekali naik taksi kita minimal biasanya harus mengeluarkasn kocek 15rb, disini akibat dari jalan-jalan di bali yang kecil dn pendek kocek 5 ribu bisa mengantar saya ketempat tinggal sementara di bali. Ah, bali kamu bersahabat sekali dengan kantong backpacker macam saya.
Disepanjang perjalanan kami merencanakan akan kemana kita besok? Maklum kita kesini tanpa travel agent jadi jadwal sampe biaya perjalanan benar-benar kita atur sendiri. Dari perdebatan yang ada malam ini akhirnyw kami memutuskan untuk jalan-jalan ke ubud. Iya ubud yang kemarin sempat dijadikan tempat syuting eat pray love. Ah pasti ada pesona tersendiri dar wilayah bagian tengah bali ini sampai bisa dipilih lokasi syuting film holywood. Saya sanagat penasaran.
Ubud itu cukup jauh jaraknya dari kuta alternatif transport yang mungkin kita ambil, sewa mobil, motor atau naik bus. Ada bus setiap 3 jam sekali ke sana tapi kocek yang dikeluarkan kalau kita pakai bus jauh lebih mahal dr dua pilihan lainnya. Setelah perdebatan yang sengit akhirnya kami memutuskan untuk ambil opsi pertama. Kita sewa mobil ke ubud besok.