Hasil nyimak cerita “FESTIVAL”

Beberapa tahun lalu, membaca aneka festival di kota-kota dunia, tiba-tiba saya ngeh, betapa kurangnya festival di Indonesia. Macam-macam pikiran saya waktu itu: apa Indonesia yg kota-kota nya begitu minim festival adalah bangsa yg murung? Terlalu “serius”, mungkin? Bayangkan, alangkah beragamnya dunia ini, alangkah menggemaskan: festival bunga, tari, night of the undead, buku, jamur, air, dan, ya, film. Begitu saya menapak kaki ke Jepang, pas musim panas. Ya ampun, kayaknya tiap gang ada festivalnya deh, selama 3 bulan plus. Kalau mau pandang dari segi ekonomi (apalagi di zaman Freakonomics ini :P ) jelas belaka, festival itu kegiatan ekonomi padat karya.Tapi, yg segera saya rasakan, merasai dunia penuh festival ini: festival adalah simpul konektivitas -antarmanusia, antarbangsa, antarbudaya.Dalam festival -bahkan yg se-”ajaib” festival siram air ke jalan supaya jalan nggak panas- manusia tumpah ruah dalam gembira dan keanekaan.Bagi banyak bangsa, dan kota, festival bukan hanya ajang tontonan, tapi salah satu alat sosialisasi nilai. Yg terpenting: nilai kebersamaan. Lalu, saya kembali ke pertanyaan semula: kenapa di kota-kota Indonesia begitu minim festival? Yg tradisional pun seperti makin berkurang? Lalu saya ingat: banyak sekali acara keramaian harus berbenturan dengan birokrasi, dan bahkan dgn kekerasan militer. Kenapa?Ya, ya… ini warisan Orde Baru. Ada kebijakan khusus Orba utk membatasi mengakomodasi keramaian, termasuk festival. Uts.. ini bukan “lagi-lagi nyalahi Orba” lho… tapi, salah satu petunjuk, baca buku Abidin Kusno: “Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif” Kenapa Orba membatasi keramaian? (pedestrian diabaikan, festival dibatasi) Karena keramaian punya potensi politik, rupanya. Menurut Abidin Kusno, dalam keramaian festival dan jalanan, orang saling berjumpa, saling bercakap, gagasan2 saling-jalin.Coba deh, kita tengok festival yg sebetulnya agak kecil & masih belum sempurna, kayak Jiffest: orang dan gagasan saling jumpa, berhubungan. Di Jiffest, dunia anekawarna tersaji di ruang2 Jakarta yg biasanya hanya sibuk cari duit. Anak kampung Kebon Kacang nonton kehidupan Filipina. Dalam perjumpaan aneka manusia, dan anekadunia itu, siapa bisa menjamin, tak akan lahir gagasan2 baru, kreasi2 segar, nantinya? Lihat Salman Aristo, penulis skenario beberapa film laris kita, menyebut Jiffest yg melahirkannya. Saya tahu, banyak yg begitu! Jadi, penting untuk berupaya menyelamatkan Jiffest. Ini satu dari sedikit kesempatan anak2 kampung kayak saya, mengalami dunia anekawarna!

(kutipan ini seijin yang empunya cerita Hikmat Darmawan sorang yang fokus di bidang penulisan, spesialisasi budaya pop, film dan komik)

“Do Something, STOP Yelling!” GnR

 

Advertisement

About penceritabodoh

pemikir, bertubuh mungil, suka berkelakar
This entry was posted in ngobrolin yang serius. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s