Gak banyak yang gua tau dari gedung yang dua hari kemarin gua datengin untuk interview kerja, berangkat dari rasa penasaran. Kenapa sih gedung ini dinamain sarinah? gua lantas googling, di Bandung sendiri tempat gw lahir ada gedung dengan nama yang sama yaitu sarinah yang sekarang udah punah di makan jaman. Lokasinya deket sama gedung-gedung bersejarah di daerah braga Bandung, tebakan gw sarinah itu punya sebuah cerita sejarah yang menarik, ternyata ada seorang bernama Rudhi Mathari yang membuat buku khusus tentang gedung ini, apa bukunya masih dijual di toko buku ya? kalau iya gua pasti langsung beli. ini ada sedikit riview buku itu dari pengarangnya langsung. semoga bisa ngasih gambaran buat kita semua. Enjoy
Judul: The Power of Vision: Sebuah Pergulatan Transformasi “Sang Dewi” Sarinah
Penerbit: Gibon Books, Jakarta
Tahun:April 2008
Jumlah Halaman: xxii + 420
Penulis:Tim penulis
Oleh Rusdi Mathari
ENTAH dari mana asal muasalnya, istilah “Sarinah pergi ke pasar” sering digunakan oleh seseorang yang mengolok-olok teman atau kenalannya yang sedang menenteng tas (keranjang). Maksudnya bercanda, tentu saja. Namun ketika sebagian besar dari kita tak menyadari betul apa dan siapa Sarinah, kata-kata yang sudah cukup lama kerap digunakan oleh juragan topeng monyet saat memukul gendang atau genderang untuk mengiringi monyetnya menari sambil membawa replika payung dan keranjang, mestinya terasa untuk melecehkan. Sarinah lalu hampir setiap kali, diidentikkan dengan monyet, tari monyet tepatnya.
Sebuah olok-olok yang celakanya kemudian juga muncul dalam syair sebuah lagu anak-anak, …”Dakocan namanya, bukan Sarinah…” Maksudnya tentu adalah Sarinah dan juga nama itu, adalah sosok dan nama kere, kelas pembantu, murah dan sebagainya. Tak salah pula bila ada orang yang menerjemahkan kata-kata itu, sebagai olok-olok kepada Sukarno, pemilik gagasan pembangunan (gedung) Sarinah.
Benar, Sarinah adalah nama yang diberikan oleh Presiden RI Sukarno kepada sebuah gedung yang kelak di dalamnya terdapat sebuah pusat belanja modern pertama di Indonesia. Dalam bukuSarinah, Sukarno mengaku nama itu adalah nama pengasuhnya, pengasuh keluarganya. Mbok Sarinah, begitu Sukarno biasa memanggil perempuan yang diakui telah ikut mendidiknya, dan membantu ibu bapaknya. Sarinah, kata Sukarno, “…mendidik mengerti bahwa segala sesuatu di negeri tergantung daripada rakyat jelata.”
Dibangun sejak 23 April 1963, Gedung Sarinah dimaksudkan oleh Sukarno menjadi sebuah pusat perbelanjaan modern yang bisa memenuhi keinginan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus. Gagasannya berasal dari Sukarno, menyusul lawatannya ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern. Ketika inflasi membubung pada masa itu, pembangunan Sarinah bukan nihil kritikan. Sukarno antara lain dianggap hanya meneruskan proyek mercusuar dan Sarinah adalah salah satu proyek gagah-gagahan ciptaan Sukarno. Hampir bersamaan waktu, ketika itu Sukarno memang sedang membangun Gelanggang Olahraga Bung Karno seluas 300 hektar pada 8 Februari 1960 untuk menyongsong pelaksanaan Asian Games IV.
Sukarno yang dikenal sebagai pemimpin keras namun juga memiliki sikap, akan tetapi bergeming dengan semua kritikan hingga Sarinah kemudian benar-benar diresmikan pada 15 Agustus 1966 lebih cepat dua hari dari rencana. Sukarno ingin melawan kapitalisme, dan karena itu Sarinah harus dibangun yang dalam bahasa Sukarno justru untuk dijadikan tempat sebagai penyaluran barang-barang keperluan hidup rakyat jelata. “Janganlah ada satu manusia yang mengira, bahwa departement store (Sarinah-Pen) adalah proyek lux. Tidak!,” begitulah Sukarno menjawab para pengkritik pembangunan Gedung Sarinah.
Peresmian pada 15 Agustus itu sebetulnya terlambat hampir setahun dari keinginan Sukarno yang bermaksud meresmikan Sarinah pada Hari Ibu 1965, 22 Desember. Ketika diresmikan, Sukarno sedang berada di bawah tekanan politik yang cukup berat menyusul peristiwa politik berdarah yang mengakibatkan banyak nyawa melayang pada akhir 1965. Dia berada di ujung akhir kekuasaan. Sebelum akhirnya menjalani tahanan politik Orde Baru hingga kematiannya pada 1970, Sukarno hanya bisa menikmati Sarinah sekitar 2 tahun sejak diresmikan, bahkan mungkin kurang. “Sarinah pergi ke pasar,” dan “…Dakocan namanya bukan Sarinah…” lalu menjadi kosakata baru yang seolah muncul dari dunia antah-berantah.
Pada awal beroperasi, Sarinah (kini menjadi PT Sarinah-Persero) merupakan pusat belanja modern di Indonesia. Pembangunan gedungnya paling sedikit menelan ongkos Rp 50 miliar yang sebagian besar didapat oleh pemerintahan Sukarno dari pinjaman negara Jepang. Operasionalnya pada waktu itu mendapat pengawasan dari Matsuzakaya dan Seibu. Nama yang disebut terakhir adalah pusat belanja modern terbesar di Jepang yang dibangun pada 1949. Dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC), mesin elektronik penghitung IBM seri 1400, tangga berjalan, dan pusat kesehatan untuk para pengunjung, fasilitas Sarinah adalah yang tercanggih, termewah dan termahal pada masa itu.
Hanya seminggu setelah beroperasi pengunjung Sarinah mencapai ribuan orang dan omzet per hari selama seminggu itu, mencapai Rp 600 juta. Hampir 35 tahun kemudian, kondisi yang mirip berulang ketika pusat belanja hipermarket Carrefour di Lebak Bulus, Jakarta Selatan beroperasi pada awal 2001; ribuan orang terlihat saling berdesakan di lorong-lorong dan mengantre di depan kasir. Bedanya, Carrefour yang berasal dari Prancis itu terus bertahan dengan kunjungan ribuan orang hingga kini, sementara Sarinah tidak. Tak menentunya situasi politik dan juga ekonomi bangsa, menyebabkan pamor Sarinah redup hanya dalam waktu kurang dari setahun, atau bahkan hanya beberapa bulan setelah diresmikan: omzetnya turun drastis menjadi hanya Rp 1,5 juta.
Puncaknya adalah 700 karyawan dari total 2.800 karyawan, harus di-PHK pada awal Februari 1967. Keputusan yang tidak populer itu mendapat reaksi keras dari karyawan dan memengaruhi perilaku dan disiplin kerja karyawan yang masih bekerja: pramuniaga tidak berpakaian rapi, ogah-ogahan dalam melayani pembeli dan sebagainya. Hingga akhir 1970, keuangan Sarinah tak kunjung membaik dan sebaliknya justru mulai terbebani oleh utang. Omsetnya menjadi hanya sekitar Rp 35 miliar sebulan.
Berbilang tahun lamanya kondisi keuangan Sarinah terus tergerus oleh salah urus, tidak efisien dan juga korupsi. Puncak paling memilukan terjadi pada 18 Juli 1980, ketika gedung empat lantai Sarinah habis terbakar. Kebakaran super hebat sehingga tak sedikit pun gedung dan seluruh isinya bisa diselamatkan. Semua musnah termasuk lantai dasar tempat banyak restoran menawarkan makanan-makanan daerah. Jembatan yang menghubungkan Gedung Sarinah dengan Gedung Jakarta Teater yang berada di sisi utara juga ambruk. Branwir, mobil dan petugas pemadam kebakaran itu datang terlalu terlambat karena terlebih dulu harus bertarung dengan kemacetan.
Sebelum mereka tiba di lokasi untuk menjinakkan api yang telanjur membesar, semua orang sudah lebih dulu teringat apa pentingnya kecepatan. Kekuasaan birokrasi Orde Baru yang mungkin ambeienpada waktu itu karena terlalu sering duduk, kali ini harus mengaku kalah tak berdaya. Ada suara setelah itu; Sarinah memang sengaja dibakar menyusul diresmikannya pusat belanja baru, Ratu Plaza yang terletak di kawasan Senayan, dan Duta Merlin di dekat Harmoni. Kebakaran yang sama berulang pada 13 November 1984 dan mengakibatkan Sarinah menelan kerugian Rp 2,7 miliar. Di Jakarta pada masa itu, sudah mulai bermunculan pusat perbelanjaan termasuk Pasaraya Sarinah Jaya milik pengusaha Abdul Latief yang dibangun pada 1981 di kawasan Blok M.
Nama Sarinah baru kembali diingat orang, ketika pada Februari 1991, restosan cepat saji McDonald yang berasal dari Amerika Serikat menyewa lantai dasar Gedung Sarinah di bagian depan. Gedung Sarinah kembali ramai dikunjungi orang tapi pengunjung itu bukan bermaksud berkunjung atau berbelanja ke pusat perbelanjaan Sarinah, melainkan ke restoran yang hak lisensinya di Indonesia dikantongi oleh Bambang Rachmadi menantu mantan Sudharmono yang pada waktu itu menjabat Wakil Presiden RI.
Keramaian semacam itu semakin riuh ketika setahun kemudian Hard Rock Café, salah satu ikon café dunia yang juga berasal dari Amerika Serikat, juga menempati Gedung Sarinah, di lantai 2. Setiap hari, setiap malam, hingga krisis ekonomi pada pertengahan 1997, Sarinah seolah berpesta. Di bagian dalam, di pusat perbelanjaannya, aneka pakaian dan barang yang mendunia mulai memenuhi gerai-gerai, seperti ketika dulu gerai Levi’s menempati salah satu sudut Gedung Sarinah. Entah apa yang akan dikatakan Sukarno, andai kini melihat Sarinah dengan McDonald, Hard Rock dan barang-barang mewah itu— Hard Rock Café sekarang sudah tidak menempati Gedung Sarinah— yang justru berasal dari pusat kapitalisme dunia yang pernah hendak dilawannya, Amerika Serikat.
Dakocan Square
Buku setebal 413 halaman ini, meskipun berisi memoar perjalanan Sarinah, satu-satunya BUMN yang bergerak di bidang ritel akan tetapi lebih tepat disebut memoar dari Ketut Arnaya, Direktur Utama Sarinah yang keduabelas, yang dikenal banyak orang sebagi pribadi santun. Sekitar tujuh tahun menjabat sebagai bos Sarinah, Ketut di buku ini, terlihat ingin “dilihat.” Sebuah upaya yang wajar sebetulnya, terutama ketika Sarinah di bawah Ketut hendak dikembangkan menjadi pusat belanja dengan konsep square, seperti yang mulai menjamur dalam lima tahun terakhir, di Tanah Air. Sebuah cita-cita yang sebetulnya terlalu terlambat, meskipun usaha itu bisa pula diterjemahkan sebagai usaha untuk menghapus olok-olok “Sarinah pergi ke pasar” dan “…Dakocan namanya, bukan Sarinah…”
Sarinah, akan tetapi memiliki beban sejarah, yang bukan hanya berat melainkan juga seharusnya tak bisa begitu saja diabaikan: menjadi pusat penyaluran barang-barang kebutuhan hidup rakyat jelata. Tujuan dan gagasan awal itu, dalam perjalanan Sarinah harus diakui tak pernah terwujud. Bukan saja karena Sarinah tak sanggup menyediakan barang-barang murah menyusul masuknya dagangan bermerek dunia namun Sarinah juga telah menjadi tempat bertemunya orang-orang kaya Jakarta. Di depannya, di jembatan penyeberangan Jalan M.H. Thamrin, rakyat jelata seperti dimaksud oleh Sukarno, menggelar dagangan mereka sambil tertimpa hujan dan debu kemarau, atau harus berkejaran dengan petugas trantib.
Andai pilihan itu (untuk disulap menjadi square) tetap harus dilakukan, Sarinah akan lebih baik, jika sama sekali kemudian menghapus sejarah dan tujuan pendiriannya— antara lain misalnya dijual kepada pihak swasta. Dengan demikian, Sarinah tak akan digugat oleh beban masa lalu yang heroik dan mulia, juga catatan tentang perilaku korup yang pernah dilakukan oleh sejumlah orang Sarinah, dulu. Paling tidak, kelak ketika Sarinah diurus oleh swasta, olok-olok, “Sarinah pergi ke pasar” dan “…Dakocan namanya bukan Sarinah…” siapa tahun tak lagi sering terdengar.
Selain soal logika bahasa dan logika penulisan yang di sana-sini masih banyak berantakan, juga jumlah penulis dan editor yang berjumlah 9 orang— buku ini jika harus disayangkan tak pula memberikan alternatif pilihan untuk mendongkrak citra dan imaji Sarinah semacam itu. Termasuk misalnya, usulan nama, apakah harus tetap memakai Sarinah sehingga menjadi Sarinah Square atau mungkin memilih nama yang dianggap lebih berkelas, Dakocan Square misalnya.
Keterangan Gambar: Gedung Sarinah di Jalan Thamrim Jakarta-www.sarinah.co.id


